Mahasiswa Diarahkan untuk Menjadi Penjaga Arah dan Masa Depan Bangsa

Di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat, generasi muda, khususnya mahasiswa, berada pada posisi yang sangat krusial dalam menentukan arah dan masa depan bangsa. Dengan kemajuan teknologi yang pesat, tantangan sosial yang kompleks, serta krisis moral dan literasi yang dihadapi, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memiliki kecerdasan akademis, tetapi juga kesadaran sosial, kepedulian, dan rasa tanggung jawab yang tinggi.
Peran Strategis Mahasiswa di Era Digital
Menurut DR. Budiyono, seorang akademisi dari Fakultas Hukum Universitas Lampung, mahasiswa memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi tantangan di era digital ini. Dia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi, telah merubah cara orang berinteraksi, belajar, dan bekerja. Namun, perubahan yang cepat ini juga membawa dampak negatif, seperti munculnya krisis nilai dalam masyarakat.
“Masalah yang dihadapi oleh generasi muda saat ini bukanlah tentang kemampuan intelektual semata, melainkan lebih pada kurangnya kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab,” ungkap Budiyono pada acara di Bandar Lampung.
Dampak Banjir Informasi
Budiyono menambahkan bahwa arus informasi yang deras dan tidak terfilter telah menyebabkan disorientasi nilai dan membuat daya pikir kritis generasi muda semakin lemah. Hal ini berkontribusi pada meningkatnya pelanggaran, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia maya.
Oleh karena itu, mahasiswa seharusnya tidak terjebak dalam rutinitas akademik semata, seperti mengejar IPK tinggi. Mereka seharusnya menyadari bahwa mereka adalah kekuatan strategis yang bisa menjadi penjaga arah dan masa depan bangsa.
Mahasiswa sebagai Agen Perubahan
Budiyono menegaskan bahwa mahasiswa merupakan agen perubahan yang penting, kontrol sosial, dan calon pemimpin masa depan. “Mereka tidak hanya sekadar penonton, tetapi merupakan aktor utama dalam sejarah bangsa ini,” tambahnya.
Sejarah telah menunjukkan bahwa banyak perubahan besar di Indonesia lahir dari inisiatif mahasiswa yang berani dan visioner. Dalam situasi yang penuh risiko di era digital saat ini, kesadaran hukum menjadi fondasi utama bagi mahasiswa untuk bergerak efektif.
Pentingnya Kesadaran Hukum
“Kesadaran hukum merupakan perpaduan antara kontrol diri dan tanggung jawab sosial. Tanpa adanya kesadaran ini, kebebasan dapat berujung pada kekacauan,” jelas Budiyono.
Di sisi lain, dengan kesadaran hukum yang kuat, kebebasan dapat menjadi kekuatan yang mendorong perubahan positif dan berkelanjutan. Mahasiswa dituntut untuk bergerak secara utuh dalam empat lini utama:
- Intelektual: Berpikir kritis dan menghasilkan gagasan solutif.
- Sosial: Peka terhadap masalah masyarakat dan berpartisipasi aktif.
- Kepemimpinan: Aktif dalam organisasi dan belajar bertanggung jawab.
- Moral dan Hukum: Menjaga integritas dan berani membela kebenaran.
Tantangan Menuju Indonesia Emas 2045
Budiyono juga mengingatkan bahwa generasi muda menghadapi berbagai tantangan internal, seperti gangguan digital, mentalitas instan, menurunnya kepedulian sosial, serta rendahnya literasi hukum.
“Tantangan terbesar saat ini bukanlah teknologi, melainkan karakter generasi muda itu sendiri,” ujarnya.
Kolaborasi untuk Masa Depan
Untuk mewujudkan visi Indonesia Emas pada tahun 2045, Budiyono menyatakan bahwa diperlukan kolaborasi antar sektor, kepemimpinan yang visioner, kesadaran hukum yang tinggi, karakter yang kuat, serta sumber daya manusia yang unggul dan adaptif.
“Mahasiswa sejati bukan hanya pintar, tetapi juga memiliki nilai dan dampak. Mereka harus mampu menggerakkan perubahan, bukan sekadar mengikuti arus yang ada,” tegasnya.
Peran BEM dalam Kepemimpinan Mahasiswa
Budiyono memberikan arahan kepada pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung tahun 2026, menegaskan bahwa pelantikan bukanlah sekadar seremonial, melainkan awal dari amanah yang besar.
“BEM berfungsi sebagai laboratorium kepemimpinan dan ruang pengabdian. Jabatan yang diemban bukanlah sekadar prestise, tetapi sebuah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan baik,” tambahnya.
Integritas dan Aksi Nyata
Ia mendorong para pengurus BEM untuk memegang teguh integritas, melakukan kerja nyata, serta peka terhadap dinamika sosial dan hukum yang ada.
“Buktikan bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari kata-kata, tetapi melalui aksi nyata yang memberikan manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat luas,” pungkasnya.