slot depo 10k slot depo 10k

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

BasarnasBerita LampungGunung Anak KrakatauKomdigiNasionalPencarian JurnalisSelat SundaSpeedboat Arupadhatu 1

Sinyal Terakhir Arupadhatu 1 Ditemukan di Sebesi, Jurnalis Perluas Pencarian

Dalam perkembangan terbaru mengenai pencarian rombongan jurnalis dan kru speedboat Arupadhatu 1, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah berhasil mendeteksi sinyal telepon seluler terakhir yang terkait dengan mereka. Sinyal tersebut terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi, Lampung Selatan. Penemuan sinyal ini memberikan harapan baru di tengah upaya pencarian yang telah memasuki hari kelima.

Deteksi Sinyal: Titik Harapan dalam Pencarian

Data telekomunikasi yang diperoleh telah diserahkan kepada Tim SAR Gabungan sebagai salah satu petunjuk penting dalam operasi pencarian. Pada hari Sabtu (12/09/2026), pencarian memasuki fase kelima, dan sinyal terakhir ini memberikan petunjuk krusial bagi tim pencari.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengungkapkan bahwa kementeriannya bekerja sama dengan tiga operator seluler untuk memantau aktivitas jaringan di sekitar Selat Sunda. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa semua kemungkinan sinyal dari jurnalis dan kru speedboat dapat terdeteksi dengan baik.

Koordinasi dengan Operator Seluler

“Kami telah berkoordinasi dengan tiga operator seluler untuk mendeteksi Base Transceiver Station (BTS) yang ada di wilayah Selat Sunda, baik di Banten maupun Lampung,” ujar Nezar. Kerja sama ini merupakan bagian dari upaya menyeluruh dalam menemukan keberadaan rombongan yang hilang.

Selain itu, Komdigi juga mengerahkan Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio untuk melakukan pemantauan lebih lanjut terhadap kemungkinan sinyal yang tertangkap di wilayah pencarian. Data dari Pulau Sebesi menunjukkan bahwa lokasi ini menangkap kontak terakhir dari rombongan tersebut.

Pencarian yang Diperluas

Meskipun terdeteksinya sinyal di Pulau Sebesi memberikan harapan, hingga saat ini belum ada penemuan fisik terhadap speedboat maupun anggota rombongan. Sebelumnya, Kantor SAR Banten dan Kantor SAR Lampung telah melakukan pengecekan di Pulau Sebesi namun tidak menemukan keberadaan mereka.

Warga setempat juga berpartisipasi dalam pencarian dengan memeriksa sekitar pulau setelah mendengar informasi mengenai aktivitas telepon seluler yang terhubung dengan menara telekomunikasi. Namun, pengecekan di lokasi dan pesisir belum membuahkan hasil.

Operasi Pencarian Hari Kelima

Pada hari kelima pencarian, Tim SAR Gabungan memperluas wilayah pencarian melalui jalur laut dan udara. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menjelaskan bahwa wilayah pencarian laut dibagi menjadi enam sektor. Luas total area pencarian mencapai sekitar 2.537 mil laut persegi, sementara pencarian udara mencakup sekitar 2.063 mil laut persegi.

  • Sektor T
  • Sektor U
  • Sektor Z
  • Sektor W
  • Sektor X
  • Sektor Y

Armada yang dikerahkan dalam pencarian ini terdiri dari berbagai kapal dan pesawat, termasuk KRI Kerambit, KP Sanjaya, KAL Pahawang, KRI Leuser, serta beberapa kapal lainnya yang berfungsi untuk memperluas area pencarian.

Penggunaan Teknologi dalam Pencarian

Penyisiran udara juga diperkuat dengan kehadiran Helikopter Dauphin AS 365 N3+ dan dua drone termal dari Basarnas. Helikopter tersebut tiba di Pantai Carita pada Sabtu pagi untuk memperluas pengamatan di sekitar Gunung Anak Krakatau dan perairan Selat Sunda.

“Kami akan terus melakukan upaya maksimal untuk menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian,” kata Al Amrad, menegaskan komitmen tim pencari untuk tidak berhenti hingga hasil yang diharapkan tercapai.

Faktor Cuaca dalam Pencarian

Kondisi cuaca tetap menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam operasi pencarian. Basarnas memperkirakan wilayah pencarian akan berada dalam kondisi cerah berawan hingga berawan, dengan kecepatan angin antara 10-20 knot dan tinggi gelombang antara 0,5 hingga 2,5 meter.

Nezar juga menambahkan bahwa helikopter yang digunakan dalam pencarian menghadapi tantangan berupa kabut yang membuat jarak pandang terbatas. Meskipun demikian, kondisi ini tidak menghentikan operasi, meskipun membatasi pengamatan dari udara di beberapa titik.

Penyelidikan Terhadap Temuan Benda

Di tengah pencarian, beberapa benda yang sempat diperiksa sebagai kemungkinan petunjuk kini telah dikesampingkan. Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki, memastikan bahwa jaket pelampung dan benda-benda pelampung yang ditemukan sebelumnya bukan berasal dari Arupadhatu 1.

Penyelidikan lebih lanjut dilakukan setelah kepolisian memeriksa benda tersebut dan meminta keterangan dari pemilik kapal, Sandi Wiyasa. Temuan life jacket pada operasi hari keempat juga dipastikan bukan perlengkapan keselamatan milik Arupadhatu 1.

Kegiatan Pencarian di Lampung

Selama operasi pencarian, tim juga menindaklanjuti informasi mengenai kemungkinan adanya orang yang terdampar di wilayah Lampung. Basarnas, TNI AL, dan Polairud mendatangi lokasi yang dilaporkan, tetapi hasil pemeriksaan tidak menemukan rombongan yang dicari.

Tim pencari sebelumnya juga telah menyisir Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang, termasuk melakukan pencarian di daratan pulau-pulau yang berada di dekat Gunung Anak Krakatau. Sayangnya, operasi tersebut belum membuahkan hasil yang diharapkan.

Kronologi Keberangkatan Rombongan

Berdasarkan kronologi yang disusun oleh Polda Banten, rombongan tersebut berangkat menggunakan speedboat Arupadhatu 1 dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada hari Senin (07/09/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka berangkat untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Salah satu anggota rombongan sempat membagikan lokasi kepada rekannya sekitar pukul 14.42 WIB. Namun, Polda Banten mencatat bahwa komunikasi dengan rombongan terputus sekitar pukul 15.04 WIB, yang menjadi titik awal pencarian ini.

Informasi Penting Lainnya

Informasi tambahan dari sumber terpercaya menyebutkan bahwa pemandu kapal, Heriyanto, masih sempat mengirimkan foto dari sekitar Gunung Anak Krakatau pada pukul 18.13 WIB. Dengan demikian, meskipun komunikasi terputus pada pukul 15.04 WIB, tidak bisa dipastikan bahwa seluruh aktivitas komunikasi di kapal berhenti pada saat itu.

Delapan orang yang masih dalam pencarian terdiri dari lima jurnalis, kapten kapal, seorang anak buah kapal, dan seorang pemandu. Nama-nama mereka adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi yang bekerja sebagai kamerawan lepas untuk Anadolu Agency, serta fotografer lepas Donal Husni. Tiga orang lainnya adalah Warta (55) sebagai kapten kapal, Surakman (60) sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto (49) sebagai pemandu.

Status Gunung Anak Krakatau

Operasi pencarian berlangsung di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Level III atau Siaga. Badan Geologi dalam evaluasi terbaru menyatakan bahwa probabilitas letusan pada periode berikutnya masih tinggi, dengan ancaman berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat, dan potensi aliran lava jika erupsi terus terjadi.

Oleh karena itu, Badan Geologi tetap melarang masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki untuk beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Status vulkanik ini juga menjadi pertimbangan keselamatan bagi personel yang terlibat dalam operasi pencarian di kawasan tersebut.

Koordinasi dan Permintaan Masyarakat

Sejak awal pencarian, Komdigi telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Basarnas, TNI, Polri, BNPB, BMKG, pemerintah daerah, serta operator telekomunikasi. Mereka terus meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan spekulasi mengenai kondisi dan lokasi rombongan sebelum informasi tersebut dikonfirmasi oleh otoritas pencarian.

Hingga pembaruan operasi pada Sabtu (12/09/2026), pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga orang lainnya yang berada bersama mereka masih berlanjut. Belum ada informasi resmi mengenai keberadaan speedboat Arupadhatu 1 maupun seluruh anggota rombongan yang hilang.

Related Articles

Back to top button