Peran Ibu dalam Era Digital: Perempuan Dominasi Pengguna Media Sosial Terbesar

Dalam era digital saat ini, peran perempuan, khususnya ibu, semakin vital dalam mengakses dan menyebarkan informasi. Dengan meningkatnya penggunaan media sosial, perempuan menjadi salah satu pengguna dominan yang memiliki kekuatan untuk mendidik dan memberi contoh bagi anak-anak mereka. Hal ini menjadi sorotan dalam seminar yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Provinsi Jawa Timur, bertepatan dengan Hari Pers Nasional 2026 dan HUT PWI ke-80. Seminar ini berlangsung di Aula Kantor PWI Jawa Timur, Surabaya, pada Jumat, 10 April 2026.
Peran Strategis Perempuan di Media Sosial
Acara seminar ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta, termasuk anggota Ikatan Pelukis Wanita Indonesia Jawa Timur. Para narasumber yang hadir mencakup Arumi Bachsin Emil Dardak, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, S.SI, M.IP., Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP., Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, serta Dr. Eko Pamuji, M.I.Kom., Wakil Direktur UKW PWI Pusat.
Pada pembukaan seminar, Ketua IKWI Jatim, Endang Suprapti, menekankan bahwa perempuan memiliki peran yang krusial dalam era media sosial saat ini. Ibu, sebagai figur sentral dalam keluarga, diharapkan dapat mendidik anak-anak mereka dengan informasi yang tepat.
Pentingnya Menyaring Informasi
Endang menyatakan, “Ibu-ibu harus dapat menyaring informasi yang benar dan menghindari hoaks untuk anak-anak mereka. Perempuan, dalam hal ini, menjadi garda terdepan dalam mengakses dan menyebarluaskan informasi yang berguna. Saya berharap para ibu juga hanya mengakses informasi positif untuk anak-anak.”
Pentingnya Penguasaan Informasi
Ketua PWI Jatim, Lutfil Hakim, juga memberikan sambutan yang menarik. Ia menyoroti bahwa di zaman digital, kemampuan untuk menguasai informasi adalah suatu keharusan. “Untuk menguasai informasi, kita harus memahami dunia jurnalistik. Dan untuk memahami jurnalis, kita harus memahami istri-istri mereka,” ujarnya dengan nada bercanda.
Ia menambahkan bahwa perempuan memiliki posisi yang sangat penting dalam konteks informasi digital. Menurutnya, di Jawa Timur, pengguna media sosial antara perempuan dan laki-laki hampir seimbang. “Namun, informasi yang datang dari ibu lebih dipercaya dalam konteks keluarga. Oleh karena itu, penting bagi ibu untuk berhati-hati dalam memilih informasi yang akan disampaikan kepada anak-anaknya,” tegas Lutfil.
Fakta Statistik Pengguna Media Sosial
Selanjutnya, Arumi Bachsin menyampaikan presentasi yang menarik, mengungkapkan fakta menarik mengenai demografi dan penggunaan media sosial. Pada tahun 2025, jumlah penduduk Jawa Timur diperkirakan mencapai 42,352 juta, dengan 21,10 juta laki-laki dan 21,25 juta perempuan. Penetrasi internet di Indonesia pada tahun tersebut diprediksi mencapai 80,66%, di mana 82,73% adalah laki-laki dan 78,57% perempuan.
“Menariknya, perempuan mendominasi pengguna media sosial dengan persentase sekitar 56,3%. Tren ini sudah terlihat sejak tahun 2021, di mana 52,6% pengguna Instagram adalah perempuan,” jelas Arumi.
Media Sosial yang Populer di Indonesia
Arumi juga memaparkan beberapa platform media sosial yang paling banyak diakses di Indonesia, antara lain:
- WhatsApp: 91,7%
- Instagram: 84,6%
- Facebook: 83,0%
- TikTok: 77,4%
- Telegram: 61,6%
“Dengan data ini, penting bagi ibu-ibu untuk mengontrol penggunaan media sosial di kalangan anak-anak mereka,” imbuh Arumi.
Menangkal Informasi Hoaks
Dalam kesempatan tersebut, Arumi juga memberikan panduan tentang cara memilih media yang baik dan menghindari informasi hoaks. “Ibu-ibu harus selalu melakukan pemeriksaan informasi sebelum membagikannya,” tambahnya. Ia juga menekankan agar tidak memperbarui status secara real-time di media sosial. “Ini berisiko, karena dapat memberikan informasi lokasi kita kepada orang yang tidak bertanggung jawab. Saya biasanya memperbarui status setelah kembali ke rumah,” ujarnya.
Inovasi dan Pendekatan untuk Keamanan Digital Anak
Pada sesi diskusi panel, Ketut, perwakilan dari Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Jawa Timur, menyarankan agar ibu-ibu mencari aplikasi yang dapat membantu mengontrol akses anak-anak ke media sosial. “Silakan cari di Google untuk menemukan aplikasi yang sesuai,” ujarnya.
Di sisi lain, Ibu Sri Untari menekankan pentingnya membatasi akses media sosial untuk anak-anak, tetapi juga menambahkan bahwa doa adalah aspek yang tidak kalah penting. “Saya selalu berdoa untuk kesuksesan anak-anak saya. Doa seorang ibu lebih mustajab,” ungkapnya.
“Alhamdulillah, anak-anak saya berhasil dan sukses,” lanjut Ketua Komisi E ini dengan penuh rasa syukur. Eko Pamuji juga menambahkan bahwa di era media sosial, kewaspadaan adalah kunci. “Ibu-ibu, dunia internet di tangan kita ibarat hutan yang penuh dengan binatang buas. Kita harus tetap waspada terhadap informasi yang diterima,” tekannya.
Seminar ini pun diakhiri dengan antusiasme peserta yang merasa puas dengan informasi yang diperoleh. Pertukaran ide dan pengalaman dalam seminar ini diharapkan dapat meningkatkan peran aktif perempuan, khususnya ibu, dalam memanfaatkan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.


