Pendeta Dewi Surentu Mengungkap Ketidakadilan Dalam Jabatan di Ibadah Kolom 10 GMIM Alfa-Omega Rumengkor

Dalam sebuah ibadah yang khidmat, Jemaat Kolom 10 GMIM Alfa-Omega Rumengkor mengadakan pertemuan rohani pada Kamis, 26 Maret 2026. Ibadah ini diselenggarakan di rumah Keluarga Paat-Pangemanan, di mana Pdt. Dewi Surentu, S.Th, dari Keluarga Lowing-Surentu, dipercaya untuk memimpin acara tersebut.
Pesan Khotbah: Ketidakadilan dalam Kehidupan Sehari-hari
Pdt. Dewi Surentu menyampaikan khotbah yang mendalam dengan mengambil ayat dari Alkitab, Matius 26:57-68, berjudul “Yesus di Hadapan Mahkamah Agama.” Dalam khotbahnya, ia mengangkat isu ketidakadilan yang sering dialami oleh manusia, baik dalam konteks jemaat, keluarga, maupun dunia kerja. Pdt. Dewi menggambarkan bagaimana peristiwa saat Yesus dihadapkan pada Mahkamah Agama mencerminkan kenyataan bahwa kesucian sering kali terperosok oleh konspirasi dan kepentingan pribadi.
Walaupun Yesus tidak melakukan kesalahan, ia dijerat dengan saksi-saksi palsu dan tuduhan yang tidak berdasar demi mencapai tujuan tertentu. Fenomena ini menggarisbawahi bagaimana manusia kadang terjebak dalam praktik ketidakadilan untuk melindungi posisi, jabatan, dan kekuasaan mereka.
Peringatan untuk Jemaat
Dalam pertemuan tersebut, Pdt. Dewi mengingatkan jemaat agar tidak berperilaku seperti Petrus, yang meskipun mengikuti Yesus, hanya berani melihat dari jauh dan tidak mengambil tindakan nyata di tengah ketidakadilan. Ia menekankan pentingnya keberanian untuk berdiri melawan ketidakadilan dan mengingatkan bahwa di balik setiap kejahatan manusia, rencana Tuhan tetap membawa kedamaian.
Kematian Yesus di kayu salib merupakan wujud keadilan tertinggi Tuhan untuk menebus dosa umat manusia. Ini adalah pengingat bahwa keadilan sejati selalu berakar pada kasih dan pengorbanan.
Ilustrasi Ketidakadilan
Pdt. Dewi juga mengilustrasikan pesannya melalui sebuah cerita tentang sebuah keluarga yang membuang-buang uang dari bangunan tinggi. Banyak orang di bawahnya berebut untuk mengambil uang tersebut tanpa mengetahui siapa yang memberikan, bahkan melupakan untuk mengucapkan terima kasih. Ini menunjukkan bahwa banyak orang hanya fokus pada berkat Tuhan, tanpa menyadari sumber berkat itu sendiri.
“Kita tidak boleh hanya menikmati berkat yang diberikan, tetapi harus selalu ingat kepada pemberi berkat itu,” tegas Pdt. Dewi dalam khotbahnya yang bertema “Ia harus Dihukum Mati.”
Refleksi dan Tindakan
Di akhir khotbah, Pdt. Dewi mengajak seluruh jemaat untuk melakukan refleksi terhadap tindakan mereka dan saling mengingatkan dalam kebenaran. Tuhan menginginkan agar setiap individu mengabdikan hidupnya untuk memuliakan nama-Nya melalui karya dan tindakan sehari-hari, baik sebagai individu, keluarga, anggota jemaat, maupun sebagai warga negara dan masyarakat global.
Ibadah ini dipandu oleh Pnt. Jeanette Pangemanan sebagai MC, dan berlangsung dengan penuh sukacita iman hingga acara berakhir. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga ruang untuk menggugah kesadaran jemaat tentang pentingnya menegakkan keadilan di segala aspek kehidupan.
- Ketidakadilan sering terjadi karena kepentingan pribadi.
- Yesus dihadapkan pada tuduhan tanpa dasar.
- Pentingnya keberanian untuk melawan ketidakadilan.
- Kematian Yesus adalah bentuk keadilan Tuhan.
- Jemaat diajak untuk saling mengingatkan dalam kebenaran.
Melalui pertemuan ini, diharapkan jemaat dapat lebih memahami betapa pentingnya menegakkan keadilan dalam hidup mereka, serta berani mengambil tindakan yang benar di hadapan ketidakadilan yang terjadi di sekeliling mereka.



