Progres Proyek SKPT Natuna Hibah JICA Capai 85 Persen, Wamenlu Lakukan Tinjauan Langsung

Pembangunan Proyek Stasiun Karantina Perikanan Terpadu (SKPT) Natuna menjadi sorotan, terutama dengan pencapaian progres yang kini telah mencapai 85 persen. Proyek ini merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Japan International Cooperation Agency (JICA), dan diharapkan dapat memperkuat posisi Natuna sebagai pusat ekspor produk perikanan. Dalam konteks ini, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno melakukan kunjungan langsung ke lokasi proyek untuk menilai perkembangan dan memberikan apresiasi atas kinerja tim yang terlibat.

Progres Pembangunan SKPT Natuna

Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno menyampaikan kepuasan atas kemajuan yang telah dicapai dalam pembangunan SKPT. Berdasarkan tinjauan yang dilakukan di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, pada Rabu (26/8/2026), proyek ini menunjukkan perkembangan yang signifikan, dengan status pembangunan yang kini telah mencapai 85 persen.

“Saya sangat senang dengan kemajuan yang ditunjukkan dalam proyek SKPT Natuna ini. Saat ini, progresnya sudah 85 persen. Saya menghargai dukungan dari JICA sebagai pemberi hibah dan PT Cimedang Sakti Kontrakindo yang menjalankan proyek ini dengan profesional dan sesuai target,” ujar Arif Havas saat peninjauan berlangsung.

Pentingnya SKPT Bagi Perikanan Nasional

Keberadaan SKPT Natuna memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung Indonesia, terutama di wilayah perbatasan, untuk terlibat dalam rantai perdagangan perikanan global. Dengan adanya fasilitas karantina yang memenuhi standar internasional, produk perikanan dari Natuna akan memperoleh jaminan mutu yang lebih baik.

“Fasilitas karantina yang representatif ini akan memudahkan proses ekspor dan meningkatkan nilai jual produk perikanan kita di pasar internasional,” tambah Arif dengan penuh keyakinan.

Kerja Sama Bilateral dengan Jepang

Proyek SKPT Natuna juga mencerminkan komitmen nyata dari pemerintah Jepang dalam membantu pembangunan infrastruktur di daerah perbatasan Indonesia. Arif menekankan bahwa proyek ini merupakan simbol kerja sama bilateral yang kuat antara Indonesia dan Jepang melalui JICA.

“Ini adalah bukti nyata dari komitmen Jepang dalam mendukung pembangunan infrastruktur di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang membutuhkan perhatian lebih. Kita berharap, setelah proyek ini selesai, SKPT dapat segera beroperasi dan memberikan manfaat nyata bagi para nelayan dan pelaku usaha di Natuna,” jelas Arif.

Dukungan dari Pemerintah Daerah

Bupati Natuna, Cen Sui Lan, yang turut mendampingi Wamenlu dalam peninjauan proyek, juga menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah pusat dan dukungan dari JICA. Ia mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Natuna sangat mendukung percepatan pembangunan SKPT ini.

“Kami di Pemkab Natuna sangat mendukung upaya percepatan pembangunan SKPT. Proyek ini adalah kebutuhan mendesak untuk meningkatkan daya saing produk perikanan yang kita miliki. Kami siap berkolaborasi agar setelah selesai, fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara optimal,” ungkap Cen Sui Lan.

Komoditas Perikanan sebagai Andalan Ekonomi

Menurut Cen, komoditas perikanan dan rumput laut adalah salah satu andalan ekonomi di Natuna. Dengan adanya SKPT, proses sertifikasi dan karantina dapat dilakukan langsung di daerah, sehingga dapat memangkas waktu dan biaya logistik yang selama ini menjadi kendala.

Sebagai bagian dari proyek ini, beberapa fasilitas yang akan dibangun meliputi:

Target Penyelesaian dan Harapan Ke Depan

Proyek SKPT ini ditargetkan akan rampung pada akhir tahun 2026. Dengan beroperasinya SKPT Natuna, diharapkan dapat menjadi pusat layanan karantina dan pengujian mutu yang pertama di wilayah perbatasan utara Indonesia.

Wamenlu Arif berharap, dengan selesainya pembangunan SKPT, Natuna tidak hanya akan dikenal sebagai lumbung ikan, tetapi juga sebagai gerbang ekspor bagi produk perikanan berkualitas ke negara-negara tetangga serta pasar global.

“Ini adalah investasi untuk masa depan. Natuna harus siap berperan sebagai pemain utama dalam perdagangan perikanan internasional,” tutup Arif dengan penuh optimisme.

Exit mobile version